Minggu, 30 Juni 2013

Fatihul Ulum is Jannati

Oleh: Ruhana,
--------------

Dalam dirimu kutemukan diriku
di saat ku terpaku dan terkapar
Diantara tandus dan hausnya syariat Islam
Kau laksanan air yang melepas dahaku
Kau laksana bintang senja yang benderang

Dan kini benar ku sadari
Kau telah lahirkan daku
Untuk menjadi insan yang menegrti
Akan arah dan jalan surga

Fatihul Ulum...
Semoga berkatmu, aku menjadi wanita hoirun nisa
Walau ku tahu itu terlalu naif
Untuk seorang santri sepertiku
Namu aku berjanji.....
Sebisa dan semampuku
Ku kan menjadi bidadari yang menghiasi taman impian nanti

Karena, ku tak ingin jadikan dirimu
Surga di dunia saja
Namun ku juga ingin kau menjadi surgaku di akhirat nanti
Karena di sanalah singgasana abadi
Dan di keabadian itu
Ku tetap ingin menyandang namamu
Sebagai Fatihul Ulum is Jannati

Manggisan, Juni 2013

Dambaan Hati

Oleh: Wahyu Putri R.

-------------------
Fatihul Ulum
Engkaulah tempat ilmu
Kecerdasanku, ku gapai darimu
Engkau adalah permata hatiku
Ilmu yang engkau berikan padaku
oh......., sungguh sangatlah besar

Jasamu tak tergantikan
Bagiku, Hidupku separuhnya milikmu
Bahagia, Duka, Cita,
Kujalani bersamamu

Ingin rasanya aku tinggal di sini
Hingga tutup usiaku
Hari demi hari aku jalani
Di pondok pesantrenku
Wahai engkau Fatihul Ulum

Kasih sayangku, sungguh amatlah besar untukmu
Jasamu, Ilmu yang ku gapai darimu,
Takkan pernah terganti
Dan tak kan pernah tergantikan

Wahai Pesantren idolaku
Hanya satu
Fatihul Ulum

Manggisan, Juni 2013

Kamis, 27 Juni 2013

Fatihul Ulum Tercinta

Oleh : Nurul Desta Hidayah, ----- Manggisan, Juni 2013


Fatihul Ulum
Ma'had tercinta penuh impian
Sejak aku berada dalam naunganmu
Begitu banyak kutemukan kisah baru

Fatihul Ulum
Ma'had dengan segudang ilmu
Yang begitu ku rindu
Kau yang berharga dan paling ku banggakan

Fatihul Ulum-ku
Begitu kokohnya berdirimu
Bak kerajaan penuh orang berpengetahuan
Sungguh
Ku tak bisa lepas dari jeratan pesonamu

Kau bagian terindah dalam hidupku
Walau kau jauh dariku,
Tapi...
Kau selalu dekat dengan jiwaku

Walau kau harus berpisah denganku
Untuk sementara waktu
Tapi kan akan selalu ada
Dalam setiap ceritaku

Fatihul Ulum
Yang kubanggakan.

(Peringkat Tiga, lomba tulis puisi pra imtihan 2013)

Seindah Pelangi

Oleh : Iftitah Ritaud Diniyah, ----- Manggisan, Juni 2013

Fatihul Ulum
Sebuah nama seindah pelangi
Yang tertulis indah
di langit sang ilahi

Engkau adalah tambang ilmu kami
Tempat yang mendamaikan hati
Tempat, yang selalu kami rindui

Di sini, di tempat ini ...
Terlahir generasi bintang
Generasi penerus syariah Islam
Bintang, yang siap menyinari kegelapan malam

Fatihul Ulum
Engkau laksana jemari malaikat
Yang melindungiku dari kefanaan dunia
Yang semakin sesat

Engkau adalah sang lentera hati
Yang menuntun jiwa rapuh kami
Dengan secercah cahaya harapan
Menuju gerbang kebahagiaan

Untuk dedikasimu yang seluas lautan
Hanya seuntai kata yang bisa terucapkan
Thanks for all...
you are the best
in my heart and my life ....

(Peringkat 2 lomba menulis puisi pra imtihan 2013)

Rabu, 26 Juni 2013

Kedamaian dan Kesederhanaan Fatihul Ulum

Oleh: Novitasari
...........................

Rasanya semua berjalan dengan sangat cepat
Semakin hari, diriku semakin mulai terbiasa,
Walau tanpanya,
Terbiasa mengisi hari-hariku yang penuh dengan kedamaian dan kesederhanaan

Fatihul Ulum...,
Engkaulah kedamaian dan kesederhanaan itu
Kedamaian yang sebelumnya tidak dapat aku rasakan dan aku bayangkan,
Kedamaian yang dulu hilang,
Kini telah kembali,
Sejak adanya engkau di sisi hidupku

Kedamaian dan Kesederhanaan, (yang menjadi) tempat aku mengenal semua hal yang biasa,
Menjadi luar biasa
Mengenal tangis kesedihan hingga tangis keharuan, kebahagiaan

Fatihul Ulum,
Walau terlalu singkat aku mengenalmu,
Tapi mimpiku selalu tentangmu
Tentang hangatnya rindu
Tentang indahnya janji
Dan tentang sucinya kesetiaanku padamu
Aku berharap semua ini takkan pernah usai
Takkan pernah usai kuukir namamu
Engkau takkan pernah tergantikan
Dan akan selamanya di hati
Terimakasih
Fatihul Ulum.

(The Winner)

Manggisan, Juni 2013

Kamis, 14 Februari 2013

Aku Ingin Seperti Asma Nadia

Catatan Admin;
Inilah Penulis Produktif yang Tidak Mempunyai Gelar Kesarjanaan.
Asma Nadia adalah  salah satu penulis best seller yang paling produktif di Indonesia. Dalam waktu 10 tahun ia telah menulis lebih dari 50 buku. Berbagai penghargaan nasional dan
regional di bidang kepenulisan juga telah diraihnya al. Pengarang Terbaik Nasional penerima Adikarya Ikapi Award tahun 2000, 2001, dan 2005, peraih Penghargaan dari Majelis Sastra
Asia Tenggara (Mastera) tahun 2005,  Anugrah IBF Award sebagai novelis islami terbaik (2008), Peserta terbaik lokakarya perempuan penulis naskah drama yang diadakan FIB UI dan Dewan Kesenian Jakarta.
Melalui maling list pembacaasmanadia,  Nadia ikut memberdayakan pembacanya, yang sebagian besar perempuan (sesama istri dan ibu rumah tangga) serta generasi muda untuk terlibat dalam gerakan Indonesia Menulis! Hasil dari gerakan itu adalah lahirnya puluhan antologi yang ditulisnya dengan pembaca dan diterbitkan berbagai penerbit.

Dari milis pembacaasmanadia@yahoogroups.com perempuan kelahiran Jakarta 26 Maret 1972 ini, dibantu Sitaresmi Sidharta, dan moderator milis lain, telah memberikan semangat kepada banyak perempuan untuk membaca, sehingga lahir Klub Buku AsmaNadia (KBA) di berbagai kota di tanah air, sebagai kegiatan alternatif yang cerdas, di mana setiap bulan anggota berkumpul dan berdiskusi tentang buku yang telah mereka baca.

Kiprah penulis yang masa kecilnya dihabiskan di rumah kontrakan sederhana di pinggir rel kereta api ini juga merambah ke dunia Internasional. Ia pernah diundang menghadiri acara kepenulisan  di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Tahun 2006 ia menjadi satu dari dua sastrawan muda Indonesia yang diundang untuk tinggal oleh pemerintah Korea Selatan selama 6 bulan. Undangan yang sama diperolehnya dari Le Chateau de Lavigny (2009) untuk tinggal di  Switzerland.
Sebagai pembicara, Nadia pernah diundang untuk al. pada forum Seoul Young Writers Festival dan The 2nd Asia Literature Forum di Gwangju, serta memberikan workshop kepenulisan di berbagai pelosok tanah air, juga kepada pelajar Indonesia di Mesir, Switzerland, Inggris,
Jerman, Roma dan Vatican, serta buruh migran di Hongkong dan Malaysia.
Sekalipun tidak mempunyai gelar kesarjanaan, karena ketika kecil sakit-sakitan (jantung, paru-paru, gegar otak, tumor) ia telah berbicara di hadapan lebih banyak  audience 
termasuk di berbagai universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, ITB, UNPAD, UGM, IPB, Unsyiah, Universitas Brawijaya, dan lain-lain.
Salah satu cerpennya berjudul: Emak Ingin Naik Haji telah difilmkan dan mendapat anugrah
film terpuji dalam Festival Film Bandung. 100% royalti dari buku Emak Ingin Naik Haji Alhamdulillah telah memberangkatkan Ustadz dan Ustadzah yang kurang mampu ke tanah suci, dan semoga kebaikan lain terus bergulir dari buku ini, dengan lebih banyaknya dukungan pembaca. Insya Allah.

Sebagian royalti dari buku-buku yang telah ditulisnya dimanfaatkan untuk mengembangkan RumahBaca AsmaNadia, perpustakaan dan tempat mengasah kreativitas bagi anak dan remaja kurang mampu, yang tersebar di Jakarta: Penjaringan, Depok, Ciledug, Manggarai, Bekasi dan Pulau Lancang Besar (kepulauan seribu), selain di Bogor-Cigombong, 3 lokasi di Cianjur,  Gresik, Jogja, Kebumen, Purwakarta. Luar Jawa: Balikpapan, Pekanbaru, Riau, Samarinda dan Tenggarong, dll.

Saat ini selain merupakan  CEO AsmaNadia Publishing House, penerbitan yang didirikannya setahun lalu, Nadia giat menularkan semangat menulis kepada keluarga Indonesia- bersama suami, dan anak-anaknya yang juga telah diajaknya ikut menulis.

Suaminya: Isa Alamsyah telah menulis buku motivasi berjudul No Excuse! Sementara Putri Salsa (13 th), telah memiliki lima buku yang diterbitkan sejak dia berusia 7 tahun, dan merupakan salah satu penulis cilik best seller saat ini. Sedangkan si bungsu Adam Putra Firdaus  (9 th) baru saja meluncurkan buku pertamanya Mostly Ghostly: Memburu Gosip Hantu-hantu.Road show keluarga penulis sudah dilakukan di Jakarta, Tanggerang, Jogja, Malang, Solo, Bogor, dan Surabaya.
Asma Nadia;

Kamis, 07 Februari 2013

Pesantren Bukan Penjara

Oleh  : M. Shlehuddin, X MAFU
Tulisan sudah di ringkas.


_________________________
Pesantren menurut orang awam adalah lingkunganbelajar mengajar ilmu agama yang jauh pengaruhnya dari dunia luar. Pengertian seperti ini menjadi alasan sebagian orang tua mengapa pesantren bukan tempat yang tepat untuk anaknya. Bahkan menurut kenyataan yang ada, sebagian besar orang tua yang memondokkan anaknya di pesantren karena mereka tidak lagi mampu merawatnya.

Dari pernyataan di atas, tujuan saya menulis adalah menyadarkan orang tua dari pandangan negatif terhadap pesantren. Pesantren bukanlah penjara seperti yang mereka sangkakan. Pesantren bukanlah kampungan.

Mereka menganggap pesantren sebagai kampungan karena mereka menyangka bahwa di pondok pesantren tidak di pelajari Ilmu Umum. Padahal kenyataannya, sudah banyak pesantren di Indonesia yang sudah memasukkan Ilmu/ pendidikan umum ke kurikulumnya. Oleh karena itu jika masih ada orang tua yang berpandangan bahwa pesantren adalah kampungan, berarti mereka telah salah memandang.

Orang bijak berkata " ilmu dunia tanpa ilmu ahirat buta, ilmu ahirat tanpa ilmu dunia pincang". Generasi muda jaman sekarang rata-rata pincang ilmu.

Penyebab lain salah pandang para orang tua adalah bahwa jika seseorang sudah menjadi santri, dia akan akan ketinggalan jaman. Bagaimana mengatasinya..? jawabannya adalah BUKU. Yah... dengan buku dunia luar bisa santri kuasai. Dengan buku dunia bisa di genggam. Lalu jaman mana yang tertinggal.

Wahai para orang tua...! sadarlah. Putra putri mu di pesantren hidup normal. Bukan hidup di penjara.