Oleh: Wahyu Putri R.
-------------------
Fatihul Ulum
Engkaulah tempat ilmu
Kecerdasanku, ku gapai darimu
Engkau adalah permata hatiku
Ilmu yang engkau berikan padaku
oh......., sungguh sangatlah besar
Jasamu tak tergantikan
Bagiku, Hidupku separuhnya milikmu
Bahagia, Duka, Cita,
Kujalani bersamamu
Ingin rasanya aku tinggal di sini
Hingga tutup usiaku
Hari demi hari aku jalani
Di pondok pesantrenku
Wahai engkau Fatihul Ulum
Kasih sayangku, sungguh amatlah besar untukmu
Jasamu, Ilmu yang ku gapai darimu,
Takkan pernah terganti
Dan tak kan pernah tergantikan
Wahai Pesantren idolaku
Hanya satu
Fatihul Ulum
Manggisan, Juni 2013
Minggu, 30 Juni 2013
Kamis, 27 Juni 2013
Fatihul Ulum Tercinta
Oleh : Nurul Desta Hidayah, ----- Manggisan, Juni 2013
Fatihul Ulum
Ma'had tercinta penuh impian
Sejak aku berada dalam naunganmu
Begitu banyak kutemukan kisah baru
Fatihul Ulum
Ma'had dengan segudang ilmu
Yang begitu ku rindu
Kau yang berharga dan paling ku banggakan
Fatihul Ulum-ku
Begitu kokohnya berdirimu
Bak kerajaan penuh orang berpengetahuan
Sungguh
Ku tak bisa lepas dari jeratan pesonamu
Kau bagian terindah dalam hidupku
Walau kau jauh dariku,
Tapi...
Kau selalu dekat dengan jiwaku
Walau kau harus berpisah denganku
Untuk sementara waktu
Tapi kan akan selalu ada
Dalam setiap ceritaku
Fatihul Ulum
Yang kubanggakan.
(Peringkat Tiga, lomba tulis puisi pra imtihan 2013)
Fatihul Ulum
Ma'had tercinta penuh impian
Sejak aku berada dalam naunganmu
Begitu banyak kutemukan kisah baru
Fatihul Ulum
Ma'had dengan segudang ilmu
Yang begitu ku rindu
Kau yang berharga dan paling ku banggakan
Fatihul Ulum-ku
Begitu kokohnya berdirimu
Bak kerajaan penuh orang berpengetahuan
Sungguh
Ku tak bisa lepas dari jeratan pesonamu
Kau bagian terindah dalam hidupku
Walau kau jauh dariku,
Tapi...
Kau selalu dekat dengan jiwaku
Walau kau harus berpisah denganku
Untuk sementara waktu
Tapi kan akan selalu ada
Dalam setiap ceritaku
Fatihul Ulum
Yang kubanggakan.
(Peringkat Tiga, lomba tulis puisi pra imtihan 2013)
Seindah Pelangi
Oleh : Iftitah Ritaud Diniyah, ----- Manggisan, Juni 2013
Fatihul Ulum
Sebuah nama seindah pelangi
Yang tertulis indah
di langit sang ilahi
Engkau adalah tambang ilmu kami
Tempat yang mendamaikan hati
Tempat, yang selalu kami rindui
Di sini, di tempat ini ...
Terlahir generasi bintang
Generasi penerus syariah Islam
Bintang, yang siap menyinari kegelapan malam
Fatihul Ulum
Engkau laksana jemari malaikat
Yang melindungiku dari kefanaan dunia
Yang semakin sesat
Engkau adalah sang lentera hati
Yang menuntun jiwa rapuh kami
Dengan secercah cahaya harapan
Menuju gerbang kebahagiaan
Untuk dedikasimu yang seluas lautan
Hanya seuntai kata yang bisa terucapkan
Thanks for all...
you are the best
in my heart and my life ....
(Peringkat 2 lomba menulis puisi pra imtihan 2013)
Fatihul Ulum
Sebuah nama seindah pelangi
Yang tertulis indah
di langit sang ilahi
Engkau adalah tambang ilmu kami
Tempat yang mendamaikan hati
Tempat, yang selalu kami rindui
Di sini, di tempat ini ...
Terlahir generasi bintang
Generasi penerus syariah Islam
Bintang, yang siap menyinari kegelapan malam
Fatihul Ulum
Engkau laksana jemari malaikat
Yang melindungiku dari kefanaan dunia
Yang semakin sesat
Engkau adalah sang lentera hati
Yang menuntun jiwa rapuh kami
Dengan secercah cahaya harapan
Menuju gerbang kebahagiaan
Untuk dedikasimu yang seluas lautan
Hanya seuntai kata yang bisa terucapkan
Thanks for all...
you are the best
in my heart and my life ....
(Peringkat 2 lomba menulis puisi pra imtihan 2013)
Rabu, 26 Juni 2013
Kedamaian dan Kesederhanaan Fatihul Ulum
Oleh: Novitasari
...........................
Rasanya semua berjalan dengan sangat cepat
Semakin hari, diriku semakin mulai terbiasa,
Walau tanpanya,
Terbiasa mengisi hari-hariku yang penuh dengan kedamaian dan kesederhanaan
Fatihul Ulum...,
Engkaulah kedamaian dan kesederhanaan itu
Kedamaian yang sebelumnya tidak dapat aku rasakan dan aku bayangkan,
Kedamaian yang dulu hilang,
Kini telah kembali,
Sejak adanya engkau di sisi hidupku
Kedamaian dan Kesederhanaan, (yang menjadi) tempat aku mengenal semua hal yang biasa,
Menjadi luar biasa
Mengenal tangis kesedihan hingga tangis keharuan, kebahagiaan
Fatihul Ulum,
Walau terlalu singkat aku mengenalmu,
Tapi mimpiku selalu tentangmu
Tentang hangatnya rindu
Tentang indahnya janji
Dan tentang sucinya kesetiaanku padamu
Aku berharap semua ini takkan pernah usai
Takkan pernah usai kuukir namamu
Engkau takkan pernah tergantikan
Dan akan selamanya di hati
Terimakasih
Fatihul Ulum.
(The Winner)
...........................
Rasanya semua berjalan dengan sangat cepat
Semakin hari, diriku semakin mulai terbiasa,
Walau tanpanya,
Terbiasa mengisi hari-hariku yang penuh dengan kedamaian dan kesederhanaan
Fatihul Ulum...,
Engkaulah kedamaian dan kesederhanaan itu
Kedamaian yang sebelumnya tidak dapat aku rasakan dan aku bayangkan,
Kedamaian yang dulu hilang,
Kini telah kembali,
Sejak adanya engkau di sisi hidupku
Kedamaian dan Kesederhanaan, (yang menjadi) tempat aku mengenal semua hal yang biasa,
Menjadi luar biasa
Mengenal tangis kesedihan hingga tangis keharuan, kebahagiaan
Fatihul Ulum,
Walau terlalu singkat aku mengenalmu,
Tapi mimpiku selalu tentangmu
Tentang hangatnya rindu
Tentang indahnya janji
Dan tentang sucinya kesetiaanku padamu
Aku berharap semua ini takkan pernah usai
Takkan pernah usai kuukir namamu
Engkau takkan pernah tergantikan
Dan akan selamanya di hati
Terimakasih
Fatihul Ulum.
(The Winner)
Manggisan, Juni 2013
Kamis, 14 Februari 2013
Aku Ingin Seperti Asma Nadia
Catatan Admin;
Inilah Penulis Produktif yang Tidak Mempunyai Gelar Kesarjanaan.
Asma Nadia adalah salah satu penulis best seller yang paling produktif di Indonesia. Dalam waktu 10 tahun ia telah menulis lebih dari 50 buku. Berbagai penghargaan nasional dan
regional
di bidang kepenulisan juga telah diraihnya al. Pengarang Terbaik
Nasional penerima Adikarya Ikapi Award tahun 2000, 2001, dan 2005,
peraih Penghargaan dari Majelis Sastra
Asia
Tenggara (Mastera) tahun 2005, Anugrah IBF Award sebagai novelis
islami terbaik (2008), Peserta terbaik lokakarya perempuan penulis
naskah drama yang diadakan FIB UI dan Dewan Kesenian Jakarta.
Melalui
maling list pembacaasmanadia, Nadia ikut memberdayakan pembacanya,
yang sebagian besar perempuan (sesama istri dan ibu rumah tangga) serta
generasi muda untuk terlibat dalam gerakan Indonesia Menulis! Hasil dari
gerakan itu adalah lahirnya puluhan antologi yang ditulisnya dengan pembaca dan diterbitkan berbagai penerbit.
Dari milis pembacaasmanadia@yahoogroups.com perempuan
kelahiran Jakarta 26 Maret 1972 ini, dibantu Sitaresmi Sidharta, dan
moderator milis lain, telah memberikan semangat kepada banyak perempuan
untuk membaca, sehingga lahir Klub Buku AsmaNadia (KBA) di berbagai kota
di tanah air, sebagai kegiatan alternatif yang cerdas, di mana setiap
bulan anggota berkumpul dan berdiskusi tentang buku yang telah mereka
baca.
Kiprah
penulis yang masa kecilnya dihabiskan di rumah kontrakan sederhana di
pinggir rel kereta api ini juga merambah ke dunia Internasional. Ia
pernah diundang menghadiri acara kepenulisan di Singapura, Malaysia,
dan Brunei Darussalam. Tahun 2006 ia menjadi satu dari dua sastrawan
muda Indonesia yang diundang untuk tinggal oleh pemerintah Korea Selatan
selama 6 bulan. Undangan yang sama diperolehnya dari Le Chateau de
Lavigny (2009) untuk tinggal di Switzerland.
Sebagai pembicara, Nadia pernah diundang untuk al. pada forum Seoul Young Writers Festival dan The 2nd Asia
Literature Forum di Gwangju, serta memberikan workshop kepenulisan di
berbagai pelosok tanah air, juga kepada pelajar Indonesia di Mesir,
Switzerland, Inggris,
Jerman, Roma dan Vatican, serta buruh migran di Hongkong dan Malaysia.
Sekalipun
tidak mempunyai gelar kesarjanaan, karena ketika kecil sakit-sakitan
(jantung, paru-paru, gegar otak, tumor) ia telah berbicara di hadapan
lebih banyak audience
termasuk
di berbagai universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas
Indonesia, ITB, UNPAD, UGM, IPB, Unsyiah, Universitas Brawijaya, dan
lain-lain.
Salah satu cerpennya berjudul: Emak Ingin Naik Haji telah difilmkan dan mendapat anugrah
film
terpuji dalam Festival Film Bandung. 100% royalti dari buku Emak Ingin
Naik Haji Alhamdulillah telah memberangkatkan Ustadz dan Ustadzah yang
kurang mampu ke tanah suci, dan semoga kebaikan lain terus bergulir dari
buku ini, dengan lebih banyaknya dukungan pembaca. Insya Allah.
Sebagian
royalti dari buku-buku yang telah ditulisnya dimanfaatkan untuk
mengembangkan RumahBaca AsmaNadia, perpustakaan dan tempat mengasah
kreativitas bagi anak dan remaja kurang mampu, yang tersebar di Jakarta:
Penjaringan, Depok, Ciledug, Manggarai, Bekasi dan Pulau Lancang Besar
(kepulauan seribu), selain di Bogor-Cigombong, 3 lokasi di Cianjur,
Gresik, Jogja, Kebumen, Purwakarta. Luar Jawa: Balikpapan, Pekanbaru,
Riau, Samarinda dan Tenggarong, dll.
Saat
ini selain merupakan CEO AsmaNadia Publishing House, penerbitan yang
didirikannya setahun lalu, Nadia giat menularkan semangat menulis kepada
keluarga Indonesia- bersama suami, dan anak-anaknya yang juga telah
diajaknya ikut menulis.
Suaminya:
Isa Alamsyah telah menulis buku motivasi berjudul No Excuse! Sementara
Putri Salsa (13 th), telah memiliki lima buku yang diterbitkan sejak dia
berusia 7 tahun, dan merupakan salah satu penulis cilik best seller saat
ini. Sedangkan si bungsu Adam Putra Firdaus (9 th) baru saja
meluncurkan buku pertamanya Mostly Ghostly: Memburu Gosip Hantu-hantu.Road show keluarga penulis sudah dilakukan di Jakarta, Tanggerang, Jogja, Malang, Solo, Bogor, dan Surabaya.
Asma Nadia;
email: asma.nadia@gmail.com
Website: http://asmanadia.com
Kamis, 07 Februari 2013
Pesantren Bukan Penjara
Oleh : M. Shlehuddin, X MAFU
Tulisan sudah di ringkas.
_________________________
Pesantren menurut orang awam adalah lingkunganbelajar mengajar ilmu agama yang jauh pengaruhnya dari dunia luar. Pengertian seperti ini menjadi alasan sebagian orang tua mengapa pesantren bukan tempat yang tepat untuk anaknya. Bahkan menurut kenyataan yang ada, sebagian besar orang tua yang memondokkan anaknya di pesantren karena mereka tidak lagi mampu merawatnya.
Dari pernyataan di atas, tujuan saya menulis adalah menyadarkan orang tua dari pandangan negatif terhadap pesantren. Pesantren bukanlah penjara seperti yang mereka sangkakan. Pesantren bukanlah kampungan.
Mereka menganggap pesantren sebagai kampungan karena mereka menyangka bahwa di pondok pesantren tidak di pelajari Ilmu Umum. Padahal kenyataannya, sudah banyak pesantren di Indonesia yang sudah memasukkan Ilmu/ pendidikan umum ke kurikulumnya. Oleh karena itu jika masih ada orang tua yang berpandangan bahwa pesantren adalah kampungan, berarti mereka telah salah memandang.
Orang bijak berkata " ilmu dunia tanpa ilmu ahirat buta, ilmu ahirat tanpa ilmu dunia pincang". Generasi muda jaman sekarang rata-rata pincang ilmu.
Penyebab lain salah pandang para orang tua adalah bahwa jika seseorang sudah menjadi santri, dia akan akan ketinggalan jaman. Bagaimana mengatasinya..? jawabannya adalah BUKU. Yah... dengan buku dunia luar bisa santri kuasai. Dengan buku dunia bisa di genggam. Lalu jaman mana yang tertinggal.
Wahai para orang tua...! sadarlah. Putra putri mu di pesantren hidup normal. Bukan hidup di penjara.
Tulisan sudah di ringkas.
_________________________
Pesantren menurut orang awam adalah lingkunganbelajar mengajar ilmu agama yang jauh pengaruhnya dari dunia luar. Pengertian seperti ini menjadi alasan sebagian orang tua mengapa pesantren bukan tempat yang tepat untuk anaknya. Bahkan menurut kenyataan yang ada, sebagian besar orang tua yang memondokkan anaknya di pesantren karena mereka tidak lagi mampu merawatnya.
Dari pernyataan di atas, tujuan saya menulis adalah menyadarkan orang tua dari pandangan negatif terhadap pesantren. Pesantren bukanlah penjara seperti yang mereka sangkakan. Pesantren bukanlah kampungan.
Mereka menganggap pesantren sebagai kampungan karena mereka menyangka bahwa di pondok pesantren tidak di pelajari Ilmu Umum. Padahal kenyataannya, sudah banyak pesantren di Indonesia yang sudah memasukkan Ilmu/ pendidikan umum ke kurikulumnya. Oleh karena itu jika masih ada orang tua yang berpandangan bahwa pesantren adalah kampungan, berarti mereka telah salah memandang.
Orang bijak berkata " ilmu dunia tanpa ilmu ahirat buta, ilmu ahirat tanpa ilmu dunia pincang". Generasi muda jaman sekarang rata-rata pincang ilmu.
Penyebab lain salah pandang para orang tua adalah bahwa jika seseorang sudah menjadi santri, dia akan akan ketinggalan jaman. Bagaimana mengatasinya..? jawabannya adalah BUKU. Yah... dengan buku dunia luar bisa santri kuasai. Dengan buku dunia bisa di genggam. Lalu jaman mana yang tertinggal.
Wahai para orang tua...! sadarlah. Putra putri mu di pesantren hidup normal. Bukan hidup di penjara.
Tersiratnya Makhroj-Makhroj Cinta Ghozali
Oleh : Nur al'Aini, X MAFU, melalui edit
Note : Tulisan tidak sesuai tema lomba
____________________________
Kisah ini terjadi pada jaman dahulu, kisah cinta yang terjadi antara santri putra dan putri. Maaf apabila kisah ini kurang menarik, banyak salahnya, dan mungkin menyinggung perasaan.
Dahulu ada anak laki yang bandel dan nakal. Begitu nakalnya hingga orang tuanya tidak mampu mengurusnya, sehingga ia dimasukkan ke pesantren. Hepni Ghozali, itulah namanya. Waktu dia didaftarkan di pesantren, dia sudah mengenal seorang perempuan yang sebaya dengannya, dia bernama ULUN (nama diganti). Ulun dan Ghozali sangatlah berbeda. Ulun anak yang rajin, sholehah, pintar, taat agama. Sedangkan Ghozali, dia nakal dan suka meremehkan orang.
Ketika mereka lulus SMP, mereka langsung didaftarkan masuk pesantren. Ghozali ingin mengatakan sesuatu kepada Ulum, tetapi tidak sempat terucap karena Ulun terlebih dulu masuk pesantren. Berbeda dengan Ulun yang rajin pintar, Ghozali adalah pemalas tingkat tinggi, saking pemalasnya dia tidak bisa menyebutkan jumlah huruf hijaiyah. .... Hari-hari Ghozali di pesantren begitu memalukan. Dia sering bolos. Keluar malam. Tidak masuk sekolah dan lain-lain. Kalau tidak dimarahi... yah dia di tindak sama pengurusnya.
Sementara Ulun sangat di sanjung oleh teman santrinya karena kepintarannya. Para Ustadz-pun membanggakannya. Dia menjadi perbincangan para ustadz. (Ust yang mana ya...?), Berita itu di dengar oleh Ghozali, sehingga mulai giat belajar, sampai dia sampai ke pelajaran makhroj-makhroj hijaiyah. Tetapi, Ghozali justru mendengar bahwa salah satu Ustadz*) di pesantrennya menyenangi Ulun.
Terjadilah persaingan antara si Ustadz dan Ghozali.
Ghozali marah ketika suatu hari dia menemukan photo Ulum di dalam buku sang ustadz. Di dalam file photo dalam HP si ustadz juga ada picture Ulun. Kemarahan Ghozali di lampiaskan dengan membuang HP si Ustadz ke sungai.
Kejadian ini di tangani pengurus pesantren. Ghozali di tindak. Dia harus berlari mengelilingi halaman pesantren putri sebanyak 10 kali. (seperti ujian praktek olah raga nih). Dan di dadanya dia dikalungi kertas bertuliskan daftar pelanggarannya.
Ghozali gugup tetapi dia juga senang karena berharap bisa bertemu / menatap Ulun. Santri putri berbisik "kasihan dia". Ghozali terus berlari, hingga dia nelihat Ulun di pojok asrama sambil membaca kitab. Ulum melempar senyum ke Ghozali sehingga hati Ghozali merasa senang, seketika itu dai melemparkan kertas (surat) yang berjudul "makhroj cinta untuk Ulun" yang isinya sebuah kalung dan kata-kata rahasia.
Hari pun berlalu. Liburan pesantren tiba. Ghozali menunggu di gerbang kuning menunggu jawaban Ulun. Ulun datang dan tersenyum sambil menjatuhkan kertas yang bertuliskan __ Kasihku, bersabarlah ! __
"Subhananllah", kata Ghozali
*) Nama Ustadz di rahasiakan.
Note : Tulisan tidak sesuai tema lomba
____________________________
Kisah ini terjadi pada jaman dahulu, kisah cinta yang terjadi antara santri putra dan putri. Maaf apabila kisah ini kurang menarik, banyak salahnya, dan mungkin menyinggung perasaan.
Dahulu ada anak laki yang bandel dan nakal. Begitu nakalnya hingga orang tuanya tidak mampu mengurusnya, sehingga ia dimasukkan ke pesantren. Hepni Ghozali, itulah namanya. Waktu dia didaftarkan di pesantren, dia sudah mengenal seorang perempuan yang sebaya dengannya, dia bernama ULUN (nama diganti). Ulun dan Ghozali sangatlah berbeda. Ulun anak yang rajin, sholehah, pintar, taat agama. Sedangkan Ghozali, dia nakal dan suka meremehkan orang.
Ketika mereka lulus SMP, mereka langsung didaftarkan masuk pesantren. Ghozali ingin mengatakan sesuatu kepada Ulum, tetapi tidak sempat terucap karena Ulun terlebih dulu masuk pesantren. Berbeda dengan Ulun yang rajin pintar, Ghozali adalah pemalas tingkat tinggi, saking pemalasnya dia tidak bisa menyebutkan jumlah huruf hijaiyah. .... Hari-hari Ghozali di pesantren begitu memalukan. Dia sering bolos. Keluar malam. Tidak masuk sekolah dan lain-lain. Kalau tidak dimarahi... yah dia di tindak sama pengurusnya.
Sementara Ulun sangat di sanjung oleh teman santrinya karena kepintarannya. Para Ustadz-pun membanggakannya. Dia menjadi perbincangan para ustadz. (Ust yang mana ya...?), Berita itu di dengar oleh Ghozali, sehingga mulai giat belajar, sampai dia sampai ke pelajaran makhroj-makhroj hijaiyah. Tetapi, Ghozali justru mendengar bahwa salah satu Ustadz*) di pesantrennya menyenangi Ulun.
Terjadilah persaingan antara si Ustadz dan Ghozali.
Ghozali marah ketika suatu hari dia menemukan photo Ulum di dalam buku sang ustadz. Di dalam file photo dalam HP si ustadz juga ada picture Ulun. Kemarahan Ghozali di lampiaskan dengan membuang HP si Ustadz ke sungai.
Kejadian ini di tangani pengurus pesantren. Ghozali di tindak. Dia harus berlari mengelilingi halaman pesantren putri sebanyak 10 kali. (seperti ujian praktek olah raga nih). Dan di dadanya dia dikalungi kertas bertuliskan daftar pelanggarannya.
Ghozali gugup tetapi dia juga senang karena berharap bisa bertemu / menatap Ulun. Santri putri berbisik "kasihan dia". Ghozali terus berlari, hingga dia nelihat Ulun di pojok asrama sambil membaca kitab. Ulum melempar senyum ke Ghozali sehingga hati Ghozali merasa senang, seketika itu dai melemparkan kertas (surat) yang berjudul "makhroj cinta untuk Ulun" yang isinya sebuah kalung dan kata-kata rahasia.
Hari pun berlalu. Liburan pesantren tiba. Ghozali menunggu di gerbang kuning menunggu jawaban Ulun. Ulun datang dan tersenyum sambil menjatuhkan kertas yang bertuliskan __ Kasihku, bersabarlah ! __
"Subhananllah", kata Ghozali
*) Nama Ustadz di rahasiakan.
Langganan:
Postingan (Atom)